Untitled

Posted by santi ariastuti

http://cibuseka.t35.com/EdwinaMartin/
Pu tMore InY ourEar ningsW ithYou rS killsO nline

Moving!

Posted by santi ariastuti

House_moving

Deciding to move.
It is my new home (www.santistory.wordpress.com).
You are heartedly-welcomed to visit! :)

Self Note

Posted by santi ariastuti

terima kasih,
untuk senantiasa sadar
bahwa,
hal-hal terbaik dalam hidup
membutuhkan waktu
untuk datang menghampiri..

dan,
terima kasih,
untuk terus bersabar
karena,
menunggu dalam ikhlas
selalu berujung pada kebaikan..

 

*pinjem gambar dari paman google

Where To Go In Pati #2

Posted by santi ariastuti

Img00251-20100913-1028

Bagi warga asli Pati, gethuk Runting bukanlah sesuatu yang baru. Olahan singkong ini telah kondang di seluruh wilayah Pati dan sekitarnya selama beberapa waktu. Gethuk ini dijual di sebuah warung kecil yang terletak di jalan raya Pati-Tayu, tepatnya di Runting. Gethuk Runting sendiri mengacu pada nama tempat asal gethuk.

***
Gethuk yang dijual di warung ini sama seperti lazimnya gethuk singkong yang lain. Yang membedakan adalah kelembutan tekstur gethuk ini. Ditambah lagi parutan kelapa dan serundeng kelapa yang royal ditaburkan. Disajikan dengan alas daun pisang, membuat gethuk ini semakin nikmat untuk disantap.
Selain gethuk, warung ini juga menyediakan kue lopis. Lopis gendut yang beramona daun pisang ini disajikan dengan kelapa parut dan juruh (saos gula merah). Manis dan gurih saat dinikmati.

***
Untuk menemani bersantap gethuk Runting dan lopis, warung ini menyediakan wedang jahe dan wedang kopi. Jahe yang digunakan adalah bubuk jahe buatan sendiri, sementara kopi disajikan dalam bentuk kopi tubruk. Kopi yang digunakan adalah Java Coffee.

***
Harga yang ditawarkan warung sederhana ini sangat ramah di kantong. Hanya Rp 1,500.00 untuk tiap porsi gethuk Runting dan Rp 2,000.00-Rp 3,000.00 untuk masing-masing wedangnya.
Saking larisnya warung ini, pembeli harus mengantri cukup panjang. Tenang saja, antrian panjang ini pasti tertebus dengan rasa yang ditawarkan gethuk, lopis, wedang jahe maupun wedang kopinya.
Jangan lupa mampir ke warung ini ya bila berkunjung ke Pati!

Rajin Mampir ke Pak Rajin!

Posted by santi ariastuti

Img00103-20100529-1750

Di posting sebelumnya, saya uda nulis singkat tentang warung tenda Pak Rajin. Tapinya belum lengkap gitu. Nah buat pecinta kuliner, ini review saya. Silahkan dimasukkan ke buku panduan kuliner Pantura *abaikan* :p.

***
Pati selalu identik dengan nasi Gandul. Atau soto tumpleg Kemiri. Mungkin ada yang lupa ataupun tidak mengetahui bahwa sebagian wilayah Pati merupakan wilayah daratan rendah dan berbatasan dengan laut. Juwana adalah salah satu kota kecamatan yang berbatasan dengan garis Pantai Utara Jawa. Ikan dan hewan laut segar dapat dengan mudah ditemukan di sini. Mau berburu ikan dan hewan laut segar? Silahkan datang ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Juwana. Enggan memasak tapi ingin merasakan segarnya olahan laut? Datanglah ke warung tenda Pak Rajin, di alun-alun Juwana. Berada di depan mesjid Agung Juwana, buka antara pukul 3 sore sampai 9 malam. *bukan posting berbayar* :p

***
Warung makan sederhana ini berkonsep lesehan. Menu makanan yang dihidangkan pun sederhana. Ikan dan udang yang diolah dengan cara dibakar dan digoreng. Ikan yang dijual adalah ikan tambak yakni bandeng, ikan layar dan ikan janjan. Yang terakhir selalu berhasil membuat bapak saya histeris. Dan kemungkinan besar di muka bumi ini hanya warung pak Rajin lah yang menjual ikan janjan. *mulai lebay* :))

***
Lupakan bumbu berlebihan pada ikan bakar yang kadang malah menghilangkan dan merusak keorisinalitasan rasa dari si ikan. Di warung Pak Rajin, ikan langsung dibakar setelah dibersihkan isi perutnya. Ditusuk dengan semacam tusukan sate dan dibakar. Demikian juga untuk masakan udang. Udang segar dibersihkan dan dibakar seperti sate. Tanpa dibumbui macam-macam. Mengutip kata Leonardo Da Vinci bahwa simplicity is the ultimate sophistication, seperti itulah gambaran hidangan di warung makan Pak Rajin. Sederhana tapi nampol. Kalo pinjem istilah pas Bondan ya Maknyuuusss!! *sik ngelap iler dulu ya* :))

***
Ikan dan udang yang telah dibakar, disajikan dengan nasi pulen hangat yang diletakkan di atas daun pisang berdampingan dengan sambel terasi dan berbagai lalapan. Ikan dan udang bakar segar yang bertone *mak gue uda kayak pak Bondan atau Bu Odelia Winneke* manis dan gurih sangat pas dimakan bersama sambel terasi yang pedas menggigit. Sambel terasi di warung makan ini terbilang unik. Selain rasa terasinya yang cukup dominan, sambel ini pun di uleg di cobek (bahasa jawa: lemper) yang extra besar, berdiameter sekitar 15 cm. Dengan kuantitas yang melimpah ruah. Sangat berbeda dengan warung makan yang hanya memberikan sambel seuprit. Sambel yang diuleg langsung ketika kita pesan itu dihidangkan bersama dengan cobek yang ekstra besar itu. Ruar biasa!!
Lalapan yang disandingkan dengan sambel ini juga dalam porsi jumbo. Lalapannya sendiri berupa kombinasi mentimun, daun kemangi dan taoge. Saya menggilai lalapan terakhir karena terbukti baik untuk kesuburan *abaikan* :p.

***
Untuk minuman di tempat ini, kita bisa memesan es teh dan es jeruk. Sangat menyegarkan. Untuk menemani kita menunggu pesanan, tersedia rempeyek kacang & rempeyek kacang hijau untuk dinikmanti. Renyah dan gurih. *krauk krauk krauk* :)).

***
Harga merupakan komponen penting ketika kita berwisata kuliner. Tenang saja, warung Pak Rajin tidak membuat kita rajin menarik uang di ATM kok. Untuk 5 orang dewasa, dengan berbagai menu kita hanya menghabiskan sekitar Rp 100,000.00. Personally, saya kurang begitu mengetahui mengapa warung makan diberi nama warung makan Pak Rajin. Mungkin Pak Rajin adalah pemiliknya. Mungkin juga pemiliknya berharap kita rajin menyambanginya. Dan yang terakhir itulah yang terjadi pada saya. Saya selalu rajin menyambanginya ketika pulang kampung. Mewah di lidah, nyaman di kantong. Slurrrrpppp *total ngeces 5 liter* :)).


Powered by KakaKiyutBerry®

Where To Go In Pati #1

Posted by santi ariastuti

Img00101-20100529-1734

If you are around Pati, you better visit this food stall. Located in alun-alun Juwana, next to Masjid Agung Juwana, the food stall sells fresh seafood. With affordable price. Of course.

Endang bambanggggg..

Asli! *ngeces seliter* :p

Powered by KakaKiyutBerry®

Sekali Lagi Tentang Hati

Posted by santi ariastuti

Hati

Senja berdetak melambat di ruang luas ini. Ratusan manusia hilir mudik, bergerak dalam segala ketergesaan. Sedikit bangku panjang yang penuh terisi. Seorang anak kecil meringkuk hangat di balik dekapan ibunda. Mereka duduk tepat di hadapan saya. Saya tersenyum. Ibu muda itu pun tersenyum membalas. Burung besi yang riuh terbang rendah. Langit bersemburat merah. Wangi basah sisa hujan masih erat menempel di hidung saya. Sempurna.

***
Dan senja ini saya kembali ke tempat ini. Tempat yang sama. Masih sama. Selasar yang tak pernah sepi. Suara lantai beradu dengan decitan berbagai alas kaki. Dan tentu saja, bangku panjang itu. Bangku yang mungkin pernah mendengar gelisah saya. Sekian puluh purnama silam. Saya tersenyum.

***

Saya melirik sekilas jam di pergelangan tangan kiri. Masih lama, batin saya. Kebimbangan pun teretas.

Haruskah saya melangkahkan kaki ke tempat itu.
Harus, sebagian hati saya berbisik. Jangan, sebagian hati saya memberontak.
Harus, buktikan kamu baik-baik saja.
Jangan, itu sama saja membuka luka lama.
Harus, berdamailah dengan masa lalu.
Jangan, belum saatnya.
Harus..
Jangan..
Dan saya tahu, semesta membawa saya pada sebuah keputusan.

***
Langkah gontai saya terhenti di gerai warung makan cepat saji di sudut terminal ini. Memesan paket nasi dan ayam goreng.
'Minumnya apa, kak?' Kasir cantik di hadapan saya bertanya. Menyadarkan saya dari hempasan lorong waktu.
'Es teh lemon saja, mbak'. Saya menjawab cepat, membuka dompet, mengulurkan lembar biru, dan beranjak ke sudut pojok lantai dua di rumah makan ini.

***
Saya selalu menyukai sudut rumah makan ini. Bukan rumah makan dengan panganan yang senantiasa dipergunjingkan pecinta kuliner. Hanya sebuah rumah makan cepat saji, dengan gerai yang mungkin memenuhi penjuru negeri.
Angin senja lembut menampar wajah saja. Burung besi terbang rendah, untuk kemudian meninggi. Angin, burung besi, langit biru adalah paket sempurna untuk saya. Itulah kenapa saya menyukainya. Dan jika ditambah kamu, maka paket saya tak hanya sempurna, tapi mendekati nirwana.

***
'Nggak nyangka beneran, kamu bakal dateng' - saya.
'Haha, sayaa senang membuat kejutan' - kamu.
'Beneran deh.. Tadi dari rumah kepikiran yang pulang ya dia aja. Tanpa kamu' - saya.
'Jadi nggak boleh nih saya di sini? Harus balik gitu? - kamu.
'Jangan' - saya.
Saya berujar lirih. Menunduk. Menahan lelehan hangat di mata saya. Tak lama berselang, sepasang jemari kuat mengunci jemari saya.
'Saya sayang kamu. Karenanya saya ada di sini'. Pemilik sepasang jemari berujar. Kamu.

***
'Rasanya malas sekali kembali ke timur.' -kamu.
'Hei, demi masa depan kita.' -saya.
'Kamu yakin?' -kamu.
'Yakin. Untuk kebaikan semuanya. Saya, kamu dan keluarga.' -saya.
'Terima kasih untuk telah mengerti saya.' -kamu.
'Baik-baik ya di sana' -saya.
'Saya pasti kembali. Tunggu saya di sini ya.' -saya.
'Pasti' -saya.
Saya berucap lirih. Sepasang jemari kuat mengunci jemari saya. Erat. Membawanya ke ujung bibir. Mengecup pelan. Dan terisak. Isakan perlahan kamu, yang menular pada saya, yang membawa kita pada suatu titik sombong dan beku. Bernama perpisahan.

***
'Mbak, kursinya dipakai?' Seorang laki-laki muda bertanya sopan kepada saya. Membuyarkan lamunan akan ingatan saya.
'Oh tidak, pak. Silahkan dipakai saja' saya menjawab perlahan. Menyadarkan saya bahwa saya berada di tempat keramat ini sendirian. Tanpa kamu.
Laki-laki itu kemudian mengangkat kursi tersebut, berucap terima kasih dan berlalu. Dari ekor mata saya, saya bisa melihat laki-laki tersebut datang bersama seorang perumpuan dewasa dan tiga bocah perempuan. Keluarga kecil nampaknya.

***
'Duh, saya laper nih. Flight masih lama. Makan dulu yuk.' -teman saya.
'Ah nggak deh. Masih kenyang.' -saya.
'Temenin aja deh. Kamu nggak makan nggak papa. Minum aja ya.. ' - teman saya.
'Nggak deh. Kalo kamu mau makan, makan saja. Saya tunggu di sini ya. -saya.
'Ih kamu tega ya. Makan sendirian kan cengoh gitu' -teman saya.
'I don't have any choice' -saya.
Menyadari kekeraskepalaan saya, teman saya beranjak sendirin. Menginggalkan saya duduk termangu sendiri di ruang tunggu.

***
'Sampe kapan kamu terus seperti itu? -teman saya.
'Nggak tau' -saya.
'Bukan memendam kebencian itu melelahkan?' -teman saya.
'Benar' -saya.
'Kamu membenci bukan hanya dia, tapi juga semua hal yang mengingatkan kamu tentang dia?' -teman saya.
'Entah. Kamu nggak tau gimana perasaan saya. Sakitnya saya' -saya.
'Neng, semua orang pernah patah hati kali. Lagian ya, jatuh cinta sama patah hati mah udah satu paket. Kayak siang sama malam aja. Cuman ya, orang suka lupa aja kalo lagi jatuh cinta. Then shit happens. Baru deh sadar. Kayak kamu sekarang.' -teman saya.
'Time heals kan? Kalo sekarang masih sakit, ya kali bakal sembuh. 100 taun lagi, 1000 taun lagi. Who knows?' -saya.
'Percaya deh kalo kamu masih nganggep kenangan dan segala tetek bengek tentang itu sebagai beban, ya selamanya akan memberatkan kamu. Ujung-ujungnya ya malah kamu sendiri yang tersiksa. -teman saya.
'Ada benernya sih. I'm still trying' -saya.
'Gile aje, udah setahun lewat dan kamu masih masih mencoba? Halooo kamu kemana aja selama ini, neng? Udah stop it, move on. Ikhlasin aja. Lebih enteng. And good things soons will come to you. Trust me. -teman saya.
Klik. Telepon dimatikan. Menginggalkan saya melebur dalam hening. Meresapi percakapan barusan.

***
Saya menyelesaikan acara makan sore saat jarum di salah satu sudut ruang menunjuk angka lima dan dua belas. Mencuci tangan dan bergegas pergi. Saat hendak beranjak, saya pandangi sekali lagi tempat saya duduk. Tempat yang sama saat saya menunggu kedatanganmu dan saat saya mengantar kepergianmu. Saya menghela nafas. Ringan. Tak ada kedukaan berkepanjangan. Tak ada tangis kelaraan. Tersenyum sekilas dan beranjak. Dan entahlah tempat ini terasa lebih indah dan lebih hangat. Senja ini saya belajar sesuatu. Tentang keikhlasan dan pelepasan.


...Jejak langkah yang kau tinggal, mendewasakan hatiku.
   Jejak langkah yang kau tinggal, tak kan pernah hilang slalu...
   (Jejak Langkah Yang Kau Tinggal~Tohpati&Glenn Fredly)

*070910, catatan pendek di sebuah boarding gate
**pinjem gambar dari bp.blogspot.com

Lessons Learned (Disney's Moral Story)

Posted by santi ariastuti

Disney

(+) Why was Snow White given an apple with poison?
(-) To show that not all people are as kind as what they pretend to be.

(+) Why did Cinderella have to run away when the clock stroke midnight?
(-) To remind us that everything has limitations even dreams.

(+) Why did Ariel decide to exchange her fins with feet?
(-) To show that anyone is willing to give up anything just to be happy.

(+)Why did Beauty get in love with the Beast?
(-) To show us that Beauty is NOT everything, we have to look at the Personality first!

 

*dari bbm seorang teman menjelang senja :)
** gambar dipinjam dr blogs.nyu.edu

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pertama Dan Terakhir

Posted by santi ariastuti

Bulansenyum

Bakmi Roxy Sabang ~ Seafood Grogol

Bukan apa-apa.
Mungkin kamu belum lupa.
Atau mungkin kamu sudah lupa.
Ah, tak apa-apa.
:)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Do Something!

Posted by santi ariastuti

Winnie-the-pooh

"You can't stay in your corner of the forest waiting for others to come to you.

You have to go to them sometimes."

-Winnie the Pooh-

 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

1 page of 6 | Next >>